09 December 2010

MORFOLOGI - Proses Morfemis

4.3. Proses Morfemis Di atas dalam pembicaraan tentang infleksi dan derivasi sudah dibicarakan sebagian kecil dari proses morfemis, atau proses morfologis, atau juga proses gramatikal, khususnya pemben¬tukan kata dengan afiks. Namun, hal ihwal afiksnya itu sendiri belum dibicarakan. Oleh karena itu, berikut ini akan dibicarakan proses-proses morfemis yang berkenaan dengan afiksasi, reduplikasi, konposisi, dan juga sedikit tentang konversi dan modifikasi intem. Kiranya perlu juga dibicarakan produktifitas proses-proses morfemis itu. 4.3.1. Afiksasi Afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar. Dalam proses ini terlibat unsur-unsur (1) dasar atau bentuk dasar, (2) afiks, dan (3) makna gramatikal yang dihasilkan. Proses ini dapat bersifat inflektif dan dapat pula bersifat derivatif. Namun, proses ini tidak berlaku untuk semua bahasa. Ada sejumlah bahasa yang tidak mengenal proses afiksasi ini. Bentuk dasar atau dasar yang menjadi dasar dalam proses afiksasi dapat berupa akar, yakni bentuk terkecil yang tidak dapat disegmen¬tasikan lagi, misalnya meja, beli, makan, dan sikat dalam bahasa Indonesia; atau go; write, sing, dan like dalam bahasa Inggris. Afiks adalah sebuah bentuk, biasanya berupa morfem terikat, yang diimbuhkan pada sebuah dasar dalam proses pembentukan kata. Sesuai dengan sifat kata yang dibentuknya, dibedakan adanya dua jenis afiks, yaitu afiks inflektif dan afiks derivatif. Yang dimaksud dengan afiks inflektif adalah afiks yang digunakan dalam pembentukan kata-kata inflektif atau paradigma infleksional. Prefiks adalah afiks yang diimbuhkan di muka bentuk dasar, seperti me- pada kata menghibur, un- pada kata Inggris unhappy dan pan- pada kata Tagalog panulat ‘alat tulis’ Infiks adalah afiks yang diimbuhkan di tengah bentuk dasar. Dalam bahasa Indonesia, misalnya infiks – el- pada kata telunjuk, dan -er- pada kata seruling, dalam bahasa Sunda -ar- pada kata barudak dan tarahu. Dalam bahasa Sunda infiks ini cukup produktif, tetapi dalam bahasa Indonesia tidak produktif. Yang dimaksud dengan sufiks adalah afiks yang diimbuhkan pada posisi akhir bentuk dasar. Umpamanya, dalam babasa Indonesia, sufiks -an pada kata bagian, dan sufiks -kan pada kata bagikan. Konfiks adalah afiks yang berupa morfem terbagi, yang bagian pertama berposisi pada awal bentuk dasar, dan bagian yang kedua berposisi pada akhir bentuk dasar. Ada konfiks per-/-an seperti terdapat pada kata pertemuan, konfiks ke-/-an seperti pada kata keterangan, dan konfiks ber-/-an seperti terdapat pada kata berciuman. Yang dimaksud dengan interfiks adalah sejenis infiks atau ele¬men penyambung yang muncul dalam proses penggabungan dua buah unsur. 4.3.2. Reduplikasi Reduplikasi adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, secara sebagian (parsial), maupun dengan perubahan bunyi. seperti meja-meja (dari dasar meja), reduplikasi sebagian seperti lelaki (dari dasar laki), dan reduplikasi denga perubahan bunyi, seperti bolak-balik (dari dasar balik). Reduplikasi semu, seperti mondar-mandir, yaitu sejenis bentuk kata yang tampaknya sebagai hasil reduplikasi, tetapi tidak jelas bentuk dasarnya yang diulang. Bahasa Jawa dan bahas Sunda. Istilah-istilah itu adalah (a) dwilingga, yakni pengulangan morfem dasar, seperti meja-meja, aki-aki dan mlaku-mlaku ”berjalan-jalan”, (b) dwilingga salin suara, yakni pengulangan morfem dasa dengan perubahan vokal dan fonem lainnya, seperti bolak-balik, langak longok, dan mondar-mandir; (c) dwipurwa, yakni pengulangan silabel pertama, seperti lelaki, peparu, dan pepatah; (d) dwiwasana, yakn pengulangan pada akhir kata, seperti cengengesan ”selalu tertawa” yang terbentuk dari cenges ”tertawa”, dan (e) trilingga, yakni pengulangan morfem dasar sampai dua kali, seperti dag-dig-dug, cas-cis-cus, dan ngak-ngik-ngok. Proses reduplikasi dapat bersifat paradigmatis (infleksional) dan dapat pula bersifat derivasional. Reduplikasi yang paradigmatis tidak mengubah identitas leksikal, melainkan hanya memberi makna gramatikal. Misalnya, meja-meja berarti ”banyak meja” dan kecil-kecil yang berarti ”banyak yang kecil”. Yang bersifat derivasional membentuk kata baru atau kata yang identitas leksikalnya berbeda dengan bentuk dasarnya. Dalam bahasa Indonesia bentuk laba-laba dari dasar laba dan pura-pura dari dasar pura. Khusus mengenai reduplikasi dalam bahasa Indonesia ada beberapa catatan yang perlu dikemukakan, yakni : Pertama, bentuk dasar reduplikasi dalam bahasa Indonesia dapat berupa morfem dasar seperti meja yang menjadi meja-meja, bentuk berimbuhan seperti pembangunan yang menjadi pembangunan¬-pembangunan, dan bisa juga berupa bentuk gabungan kata seperi surat kabar yang menjadi surat-surat kabar atau surat kabar-surat kabar. Kedua, bentuk reduplikasi yang disertai afiks prosesnya mungkin: (1) proses reduplikasi dan proses afiksasi itu terjadi bersamaan seperti pada bentuk berton-ton dan bermeter-meter; (2) proses reduplikasi terjadi lebih dahulu, baru disusul oleh proses afiksasi, seperti pada berlari-lari dan mengingat-ingat (dasarnya lari-lari dan ingat-ingat); (3) proses afiksasi terjadi lebih dahulu, baru kemudian diikuti oleh proses reduplikasi, seperti pada kesatuan-kesatuan dan memukul-¬memukul (dasamya kesatuan dan memukul. Ketiga, pada dasar yang berupa gabungan kata, proses reduplikasi mungkin harus berupa reduplikasi penuh, tetapi mungkin juga hanya berupa reduplikasi parsial. Misalnya, ayam itik -ayam itik dan sawah ladang-sawah ladang (dasamya ayam itik dan sawah la¬dang) contoh yang reduplikasi penuh, dan surat-surat kabar serta rumah-rumah sakit (dasamya surat kabar dan rumah sakit) contoh untuk reduplikasi persial. Keempat, banyak orang menyangka bahwa reduplikasi dalam bahasa Indonesia hanya bersifat paradigmatis dan hanya memberi makna jamak atau kevariasian. Namun, sebenamya reduplikasi dalam bahasa Indonesia juga bersifat derivasional. Oleh karena itu, munculnya bentuk-bentuk seperti mereka-mereka, kita-kita, kamu-kamu, dan dia-¬dia tidak dapat dianggap menyalahi kaidah bahasa Indonesia. Kelima, ada pakar yang menambahkan adanya reduplikasi semantis, yakni dua buah kata yang maknanya bersinonim membentuk satu kesatuan gramatikal. Misalnya, ilmu pengetahuan, hancur, luluh, dan alim ulama. Keenam, dalam bahasa Indonesia ada bentuk-bentuk seperti kering kerontang, tua renta, dan segar bugar di satu pihak; pada pihak lain ada bentuk-bentuk seperti mondar-mandir, tunggang-langgang, dan komat-kamit, yang wujud bentulrnya perlu dipersoalkan. Kelompok pertama, yang salah satu komponennya berupa morfem bebas dan komponen yang lain berupa morfem unik, apakah merupakan bentuk reduplikasi berubah bunyi, ataukah berupa bentuk komposisi ? Kelompok kedua, yang kedua komponennya bempa morfem terikat, apakah merupakan bentuk reduplikasi atau bukan, sebab masing-masing komponennya tidak dapat ditentukan sebagai bentuk dasamya. Jadi, manakah yang diulang? Begitu juga dengan bentuk rama-rama, sema-¬sema, ani-ani, dan tupai-tupai; serta bentuk-bentuk seperti pipi, kuku, sisi, dan titi, perlu dan bisa dipersoalkan apakah hasil proses reduplikasi ataukah bukan. 4.3.3. Komposisi Komposisi adalah hasil dan proses penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar, baik yang bebas maupun yang terikat sehingga terbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda, atau yang baru. Dalam bahasa Indonesia proses komposisi ini sangat produktif. Hal ini dapat dipahami, karena dalam perkembangannya bahasa jndonesia banyak sekali memerlukan kosakata untuk menampung konsep-konsep yang belum ada kosakatanya atau istilahnya dalam bahasa Indonesia. Produktifnya proses komposisi itu dalam bahasa Indonesia menimbulkan berbagai masalah dan berbagai pendapat karena komposisi itu memiliki jenis dan makna yang berbeda-beda. Masalah¬-masalah itu antara lain masalah kata majemuk aneksl, dan frase. Para ahli tata bahasa tradisional, seperti Sutan Takdir Alisjahbana (1953), yang berpendapat bahwa kata majemuk adalah sebuah kata yang memiliki makna baru yang tidak merupakan gabungan makna unsur-unsumya. Kelompok linguis lain, yang berpijak pada tata bahasa struktural menyatakan suatu komposisi disebut kata majemuk, kalau di antara unsur-unsur pembentuknya tidak dapat disisipkan apa-apa tanpa merusak kom¬posisi itu. Bisa juga suatu komposisi disebut kata majemuk kalau unsur-¬unsurnya tidak dapat dipertukarkan tempatnya. Ada lagi kelompok lain yang membandingkan dengan kata majemuk dalam bahasa-bahasa Barat. Dalam bahasa Inggris, misalnya, kata majemuk dan bukan kata majemuk berbeda dalam hal adanya tekanan. Linguis kelompok lain, ada juga yang menyatakan sebuah komposisi adalah kata majemuk kalau identitas leksikal komposisi itu sudah berubah dari identitas leksikal unsur-unsurnya. Verhar (1978) menyatakan suatu komposisi disebut kata majemuk kalau hubungan kedua unsurnya tidak bersifat sintaksis. Kridalaksana (1985) menyatakan kata majemuk haruslah tetap berstatus kata, kata majemukj harus dibedakan dari idiom sebab kata majemuk adalah konsep sintaksi,s edangkan idiom adalah konsep semantis. 4.3.4. Konversi, Modifikasi, Internal dan Suplesi Konversi, sering juga disebut derivasi zero, transmutasi dan transposisi, adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lian tanpa perubahan unsur segmental. Modifikasi internal (sering disebut juga penam bahan internal atau perubahan internal) adalah proses pembentukan kata dengan penambahan unsur-unsur (yang biasanya berupa vokal) ke dalam morfem yang berkerangka tetap. 4.3.5. Pemendekan Pemendekan adalah proses penanggalan bagian-bagian leksem atau gabungan leksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat tetapi maknanya tetap sama dengan makna bentuk utuhnya Hasil proses pemendekan ini kita sebut kependekan Misalnya bentuk lab (utuhnya laboratorium), hlm (utuhnya halaman) l (utuhnya liter), hankam (utuhnya pertahanan dan keamanan), dan SD (utuhnya Sekolah Dasar). Penggalan adalah kependekan berupa pengekalan satu atau dua suku pertama dari bentuk yang dipendekkan itu Mi¬salnya, lab, atau labo dari laboratorium dok dari bentuk utuh dokter, dan perpus dan bentuk utuh perpustakaan Yang dimaksud dengan smgkatan adalah hasil proses pemendekan a. Pengekalan huruf awal dari sebuah leksem, atau huruf-huruf awal dari gabungan (eksem. Misalnya: I (liter), R (radius), H. (haji), kg (kilogram), km (kilometer), DPR (Dewan Perwakilan Rakyat), dan UI (Universitas Indonesia). b. Pengekatan beberapa huruf dari sebuah leksem. Misalnya: hlm (halaman), dng (dengan), rhs (rahasia), dan bhs (bahasa). c. Pengekalan hurut pertama dikombinasi dengan penggunaan angka untuk penggauti huruf yang sama. Misalnya: P3 (partai persatuan pembangunan), P4 (pedoman penghayatan pengamalan Pancasila), Lp2P {laporan pajak-pajak pribadi, dan P3AB (proyek percepatan pengadaan air bersih). d. Pengekalan dua, tiga, atau empat huruf pertama dari sebuah leksem. Misalnya: As (asisten), Ny. (Nyonya), Okt (Oktober), Abd (Abdul), dan pum (pumawirawan). e. Pengekalan huruf pertama dan huruf terakhir dari sebuah leksem. Misalnya: Ir (insinyur), Fa (Firma), Jo (juncto), dan Pa (perwira). Akronim adalah hasil pemendekan yang berupa kata atau dapat dilafalkan sebagai kata. Wujud pemendekannya dapat berupa penge¬kalan huruf huruf pertama berupa pengekalan suku-suku kata dari gabungan leksem, atau bisa juga secara tak beraturan. Pemendekan merupakan proses yang cukup produktif, dan terdapat hampir pada semua bahasa. Produktifnya proses pemendekan ini adalah karena keinginan untuk menghemat tempat (tulisan), tentu juga ucapan. Dalam bahasa Indonesia pemendekan ini menjadi sangat produktif adalah karena bahasa Indonesia seringkali tidak mempunyai kata untuk menyatakan suatu konsep yang agak pelik atau sangat pelik. Keproduktifan pemendekan ini dalam Bahasa Indonesia tampak juga dari adanya bentuk yang sudah merupakan hasil pemendekan dipendekkan lagi karena bentuk yang sudah merupakan kependekan itu diberi deskripsi lagi, sehingga menjadi bentuk yang cukup panjang, dan karena itu pedu dipendekkan lagi. 4.3.6. Produktivitas Proses Morfemis Yang dimaksud dengan produktivitas dalam proses morfemis ini adalah dapat tidaknya proses pembentukan kata itu terutama afiksasi, reduplikasi, dan komposisi digunakan berulang-ulang yang secara relatif tak terbatas; artinya, ada kemungkinan menambah bentuk baru dengan proses tersebut. Proses inflektif atau paradigmatis karena tidak membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan bentuk dasamya, trdak dapat dikatakan proses yang produktif. Proses inflektif bersifat tertutup. Proses derivasi bersifat terbuka. Artinya penutur suatu bahasa dapat membuat kata kata baru dengan aroses tersebut. Proses derivasi adalah produktif, sedangkan proses infleksi tidak produktif. Namun, perlu diketahui ke produktifan proses derivasi ini, dan penambahan alternan –alternan baru pada daftar derivasional, dibatasi oleh kaidah-kaidah yang sudah ada. Misalnya pembentukan kata baru dengan prefiks memper- terbatas pada dasar ajektival dan dasar nu¬meral; dan tidak dapat ada dasar verbal Selain itu perlu juga di perhatian, meskipun kaidah mengizinkan untuik terbentuknya suatu kata, namun dalam kenyataan berbahasa bentuk-bentuk tersebut tidak terdapat. Tidak adanya sebuah bentuk yang seharusnya ada. Fenomena ini terjadi karena adanya bentuk lain yang menyebabkan tidak adanya betnuk yang dianggap seharusnya ada. Dalam bahasa Indonesia yang ada tampaknya bukan kasus bloking, melainkan ”persaingan” antara kata derivatif dengan bentuk atau konstruksi frase yang menyatakan bentuk dasar dengan maknanya. Bentuk-bentuk yang menurut kaidah gramatikal dimungkinkan keberadaannya, tetapi ternyata tidak pernah ada, seperti mencatikan dan memisau di atas disebut bentuk yang potensial yang pada suatu saat kelak mungkin dapat muncul Sedangkan bentuk-bentuk yang nyata ada, seperti bentuk menjelekkan dan bersepeda disebut bentuk-bentuk aktual.

No comments:

Share it