09 December 2010

Aliran-aliran sastra

Realisme
Aliran realisme ialah aliran yang inin mengemukakan kenyataan, barang yang lahir(lawan batin). Sifatnya harus obyektif karena karena pengarang melukiskan dunia kenyataan. Segala-galanya digambarkan seperti apayang tampak, tak kurang tak lebih. Rasa simpati dan antipati pengarang terhadap objek yang dilukiskannya, tak boleh disertakannya.dengan perkataan lain, pengarang dalam ceritanya itu tidak ikut bermain,dia hanya penontot yang obyektif.

Ekpresionisme
a. Kalau aliran realisme melukiskan apa yang tampak, yang nyata, maka seniman ekspresionisme merasakan apa yang bergejolak dalam jiwanya. Pengarang ekpresionisme menyatakan perasaan cintanya, bencinya, rasa kemanusiaannya, rasa ketuhanannya yang tersimpan dalam dadanya. Baginya alam hanyalah alat untuk menyatakan pengertianyang lebih tentang manusia yang hidup.
b. Kalau seniman Impresiotis menyatakan kesannya setelah dia melihat sesuatu, maka seniman ekpresionisme mengeluarkan rasa yang menyesak padat di dalam kalbunya dengan tak memerlukan ransangan dari luar. Sifat melukisnya subyektif. Pernyataan jiwa sendiri ini terutama dinyatakan dengan bentuk puisi adalah alat utama pujangga sastra untuk melukiskan perasaanya. Sajak-sajak Chairil Anwar kebanyakan ekpresionistik sifatnya.
c. Ke dalam aliran ekpresionisme termasuk juga aliran-aliran: romantic,adealisme, mistisisme, surealisme, simbolik, dan psikologisme.

Naturalisme
Aliran naturalisme ingin melukiskan keadaan yang sebenarnya, sering cenderung kepada lukisan yang buruk, karena ingin memberikan gambaran nyata tentang kebenaran. Untuk melukiskan tentang kejelekan masyarakat, pengarang naturalisme tidak segan-segan melukiskan kemesuman. Emelia Zola seorang pengarang naturalis Prancis yang paling besar di zamanya. Sering lukisannya sering dianggap melampaui batas kesopanan sehingga seolah-olah tidak ada lagi batas-batas ukuran susila dan ketuhanannya.

Determinisme
Desentralisasi adalah cabang dari naturalisme, bisa dikatakan ‘paksaan nasib’ tetapi bukan nasib yang ditentukan oleh keadaan masyarakat sekitar seperti kemiskinan, penyakit, penyakit keturunan, kesukaran akiban peperangan, dan sebagainya. Yang menjadi soal dalam karangan-karangan alirann ini adalah penderitaan seseorang : jahatkah, melaratkah, menderiita penyakit keturunan, bukan karena tuhan sudah menakdirkan dia harus hidup demikian, melainkan sebagai akibat masyarakat yang bobroklah yang melahirkan manusia-manusia seperti itu. Cara pengarang melukiskan juga naturalistic.

Impresionisme
Pengarang Impresionistis melahirkan kembali kesan atas sesuatu yang dilihat. Kesan itu biasanya kesan sepintas lalu. Pengarang takkan melukiskan sampai mendetail, sampai kepada yang sekecil-kecilnya seperti dalam aliran realisme atau naturalisme supaya ketegasan, spontanitas penglihatan, perasaan mula pertama tetap tidak hilang. Lukisan seperti itulah lukisan beraliran impresionisme.
Romantisme
a. aliran romantic mengutamakan rasa, sebagai lawan aliran realisme. Pengarang romantic mengawankan kealam khayal, lukisannya indah membawa pembaca kealam mimpi. Yang melukiskan mungkin saja terjadi, tetapi semua dilukiskan dengan mengutamakan keharuan rasa pembaca. Bila seseorang berada dalam keadaan gembira, maka suasana sekitarnya harus pula memperlihatkan suasana yang serba gembira, hidup, berseri-seri. Demikian juga sebaliknya. Kata-katanya pilihan dengan perbandingan-perbandingan yang muluk-muluk.
b. Aliran romantic terbagi pula atas romantic pasif dan romantic. Dinamakan aktif romantic apa bila lukisannya menimbulkan semangat untuk berjuang, mendorong keinginan untuk maju. Dinamakan pasif romantic apabila lukisannya berkhayal-khayal, bersedih-sedih, melemahkan semangat perjuangan.
Idealisme
Idealisme adalah aliran romantic yang didasarkan pad aide pengarang semata-mata. Pengarang memandang kemasa yang dapat memberikan bahagia keadaannya atau kepada nusa dan bangsanya. Seolah-olah pengarang seorang juru ramal yang merasa bahwa ramalannya (fantasinya) pasti atau sekurang-kurangnya mungkin terjadi.

Mistisme
Dalam aliran ini terasa ciptaan yang bernafaskan rasa ketuhanan. Perang selalu mencari dan mendekatkan dirinya pada zat yang maha tinggi. Aliran ini melahirkan ciptaan yang didasarkan pada ketuhanan, pada filsafat, dan alam gaib. Contohnya dapat dilihat pada karangan-karangan Hamzah Fanzuri (pujangga lama), Amir Hamzah (pujangga baru, Taslim ali(Angkatan 45).

Surealisme
Dalam aliran ini lukisan realitasnya bercampur agan-angan, malah angan-angan amat mempengruhi bentuk lukisan. Didalamnya ada pernyataan jiwa, pemasakan dalam jiwa. Kalau dalam film semua hal (gerak-gerik), suara, musik, pemandangan) dapat dinyatakan serentak, maka didalam tulisan, hal-hal seperti itu harus dinyatakan satu demi satu. Itu sebabbya, lukisan tampak melompat-lompat dari satu kepada tempat yang lain, justru untuk menyatakan keseluhan sekaligus.
Payah membaca mengikuti karangan yang bercorak surealisme. Pembaca harus menyatukan dalam pikirannya segala lukisan yang seakan-akan bertaburan itu. Jalan atau aturan tata bahasa seolah-olah diabaikan oleh pengarang karena pikirannya meloncat-loncat dengan cepat. Logika seakan-akan hilang, alam benda dan alam pikiran bercampur aduk menjadi satu. Kebanyakan sajak-sajak sitorsimorang beraliran surealisme.
Simbolisme
a. lukisan secara simbolik ialah lukisan yang mengambil sesuatu sebagai pelambang, sering kelihatan seperti sindiran. Pada masa jepang berkuasa di tanah air kita, sensor atas karanga-karangan amat keras. Untuk melepaskan diri dari jaringan sensor itu, dibuatlah karangan yang bersimbol.jika tidak, maka karangan ditambah lagi dengan kalimat-kalimat yang tidak berarti sekedar untuk mengelabuhimata sensor jepang
b. dalam karangan simbolis biasanya binatang atau tumbuhan dilukiskan sebagai manusia ndengan sifat-sifatnya. Misalnya hakikat kalilah dan dimnah, hikayat Panca Tantra, Syair si Burung Pungguk.
c. Dalam kesastraan Indonesia, kita lihat misalnya karangan Maria Amir Tinjaulah Dunia Sana. Tokohnya ikan-ikannya dalam akuarium. Gerak-gerik dan sifat-sifat ikan itu dilukiskan sebagai lukisan manusia yang beraneka ragam sifatnya. Aliran simbolik sejalan dengan surealisme, yakni bahwa alam ini hanyalah ebagai batu luncatan untuk menyatakan pengertianyang lebih tentang manuia yang hidup.

Psikologisme
Aliran ini mengutamakan penguraian psiko (jiwa). Itu sebabnya pengarang harus pengetahuan tentang dasar-dasar jiwa orang berdasarkan teori-teori para ahli ilmu jiwa umpamanya Freud dab Kunkel, mengetahui teori serta mendalami jiwa manusia seperti tokoh cerita yang akan ditampilkannya. Harus tahu bagaimana jiwa orang islam, Kristen, budha, hindu, sehubungan denganagama anutan masing-masing. Harus tahu bagaimana jiwa manusia yang paham Maxsisme, anaarchisme, dan sebagainya. Dengan tak memiliki pengetahuan tersebut, sukarlah di bagi pengarang melukiskan jiwa tokoh-tokoh ceritanya setepat mungkin. Contoh karangan yang beraliran psikokologisme dalam kesusastraan kita adalah Atheisbkarya Achdiat kartamihardja dan jalan tak ada ujung karya Mochtar lubis.

No comments:

Share it