22 May 2010

Retorika Bahasa Indonesia

BAB I

1. PENGERTIAN RETORIKA
Retorika adalah suatu istilah yang secara tradisonal diberikan pada suatu pengetahuan yang tersusun baik. Jadi ada dua aspek yang perlu diketahui oleh seseorang dalam retorika, yaitu pengetahuan mengenai bahasa dan penggunaan BAHASA dengan BAIK, dan kedua pengetahuan mengenai objek tertentu yang akan disampaikan dengan bahasa tadi. Oleh karena itu, retorika harus ipelajari oleh mereka yang ingin menggunakan bahasa dengan cara yang sebaik-baiknya untuk tujuan tertentu tai. Studi mengenai retorika inilah yang akhirnya mempengaruhiu perkembangan kebudayaan eropa dari jaman kuno hingga abad XVII Masehi. Sesudah abad XVII, retorika tidak dianggap penting lagi. Pada abad XX, retorika kembali mengambil tempat diantara bidang-bidang pengetahuan lainnya, sebagai suatu cara untuk menyajikan berbagai macam bidang pengetahuan dalam bahasa baik dan efektif.

Kalau kita mengenal lebih baik hakikat retorika itu sendiri dan bagaimana perannannya pada bermacam-macam tingkat perkmbangannya. Teknik retorika, serta pengetahuan yang menjadi landasan retorika itu selalu diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Sebab tiu, apabila pada suatu wkatu tujuan –tujuan retorika itun berubah bersamaan dengan munculnya teknik-teknik baru berdasarkan teori baru, maka struktur retorika yang berlaku akan dianggap tidak sempurna lai. Kecendrungan ini selalu berulang kembali dalam situasi dan suasana yang memungkinkan perubahan itu dari waktu ke waktu.
Pada waktu ditemukan media komunikasi elektronis, khususnya radio, peranan bahasa lisan muncul kembali. Podato melalui radio, televise mempunyai peranan yang sama penting dengan komunikasi memelui media tulis. Sebab itu, selama 25 abad perkembangan retorika, yaitu sejak diperkenalkan pada abad V seblum Masehi sampai sekarang , pengertian retorika itu mengalami perkembangan. Retoika dalam pengertian dewasa ini boleh dikatak mencakup semua pengertian yang telah ada yaitu :
a. prinsip-prinsip mengenai komposisi pidato yang persuasive dan efektif maupun keterampilan yang harus dimiliki seorang orator (ahli pidato)
b. prinsip-prinsip mengenai komposisi prosa pada umumnya, naik yang dimaksudkan untuk penyajian lisan maupun untuk penyajian tertulis, entah yang bersifat fiktif atau yang bersifat ilmiah;si
c. nya mungkin lamban dan suka, tapi to orang akan merasa lega dan puas, sebab tidak akan sia=-sia sema jerih lelah yangkumpulan ajaran teoritis mengenai seni komposisi verbal, baik prosa maupun pusi, beserta upaya-upaya yang digunakan dalam kedua jenis komposisi verbal tersebut.

Retorika dalam hal ini berusaha pula mempengaruhi sikap dan perasaan orang, maa ia dapat mempergunakan semua unsure yang bertalian dengan kaidah-kaidah keefektifan dan keindahan gaya bahasa, misalnya ketepatan pengungkapan, keefektifan struktur kalimat, penggunaan bahsa kiasan yang serasi, penampilan yang sesuai dengan situasi dan sebagainya. Secara singkat, retorika membicarakan dasar-dasar yan fundamental untuk menyusun sebuah wacana yang efektif. melihat perkembangan dan pergeseran dan tekanan makna retorika sebagai dikemukakan tadi maka dapat dikatakan bahwa retorika adalah suatu tekni pemakain bahasa sebagai seni, baik lisan maupun tertulis yang didasarkan pad suatu pengetahuan yang tersusun baik. retorika bertujuan menerangkan kaidah-kaidah yang menjadi landasan dai tulisan yang bersifat prosa atau wacana lisan yang berbentuk pidato atau ceramah, untuk mempengaruhi sikap dan perasan orang.









BAB II

1. KATA DAN PILIHAN KATA

Dalam mendeskripsi banyak bahasa di dunia diperlukan sebuah unit yang di sebut kata, namun pengertian kata dibatasi secara fonologis, sedangkan bagi bahasa yang lain di batasi secara fonologis. Kata merupakan suatu unit dalam bahasa yang memiliki stabilitas intern dan mobilitas posisionalnya dapat dilihat dalam kalimat : saya memukul anjing; anjing itu kupukul; kupukul anjing itu. Yang paling penting dari rangkaian kata-kata itu adalah pengertian yang tersirat di balik kata yang di gunakan itu. Setiap anggota masyarakat yang terlibat dalam kegiatan komunikasi, selalu berusaha agar orang-orang lain dapat memahaminya dan disamping itu ia harus bisa memahami orang lain. dengan cara ini terjalinlah komunikasi dua arah yang harmonis dan baik. Pengertian yang tersirat dalam sebuah kata itu mengandung makna bahwa tiap kata mengungkapkan sebuah gagasan atau sebuah ide. Atau dengan kata lain, kata-kata adalah alat penyalur gagasan yang akan di sampaikan kepada orang lain. Kata-kata ibarat “Pakaian” yang dipakai oleh pikiran kita. Tiap kata memiliki jiwa. Setiap anggota masyarakat harus mengetahui “jiwa” setiap kata, agar ia dapat menggerakkan orang lain dengan “jiwa”dari kata-kata yang dipergunakannya. Bila kita menyadari bahwa kata merun menyidpakan penyalur gagasan, maka hal itu berarti semakin banyak kata yangdikuasai seseorang, semakin banyak pula ide,atau gagasan yang dikuasainya dan yang sanggup di ungkapkannya. Mereka yang menguasai banyak gagassan atau dengan kata lain mereka yang luas kosa katanyanya, dapat dengan mudah dan lancar mengadakan komunikasi dengan orang-orang lain. Tidak dapat disangkal lagi bahwa penguasaan kosa kata adalah bagian yang sangat pentiing dalam dunia peguruan tinggi. Prosesnya mungkin lamban dan sukar, tapi toh orang akan merasa lega dan puas sebab tidak akan sia-sia semua jerih lelah yang telah di berikan. Manfaat dari kemampuan yang diperolehnya itu akan lahir dalam bentuk penguasaan terhadap pengertian-pengertian yang tepat bukan sekedar mempergunakan kata yang hebat tanpa isi. Dengan pengertian-pengertian yang tepat itu dapat disimpulkan pula dengan kata kita dapat menyampaikan pikiran kita secara sederhana dan langsung.

2. PILIHAN KATA

Pengertian pilihan kata ata diksi jauh lebih luas dari apa yang di pantulkan oleh jalinan kata-kata itu. Istilah ini bukan saja di pergunakan untuk menyampaikan kata-kata mana yang dipakai untuk mengungkapkan suatu ide atau gagasan, tetapi juga meliputi persoalan fraseologi, gaya bahasa dan ungkapan. Fraseologi mencakup persoalan kata-kata dalam pengelompokan ata susunannya, atau yang menyangkut cara-cara khusus berbentuk ungkapan-ungkapan. Gaya bahasa sebagai bagian dari diksi bertalian dengan ungkapan-ungkapan yang individual atau karakteristik yang memiliki nilai artistik yang tinggi. Mereka yang luass kosa katanya akan memiliki kemampuan yang tinggi untuk memilih setepay-tepatnya kata mana yang paling harmonis untuk mewakili maksud atau gagasannya. Secara populer orang akan mengatakan bahwa kata meneliti sama artinya dengan kata menyelidiki,mengamati, dan menyidik. Mereka yang luas kosa katanya akan menolak anggapan itu, alasannya ia tidak tahu bahwa ada perbedaan antara kata-kata yang bersinonim itu. Pilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata-kata mana yang dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata-kata yang tepat atau menggunakan ungkapan – ungkapan yang tepat dan gaya mana ang paling baik di gunakan dalam situasi. Pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan untuk menemukaikirann bentuk yang sesuai(cocok) dengan situasi atau nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar. Pilihan kata yang tepat atau sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasaan sejumlah besar kosa kata atau perbendaharaan kata bahasa itu. Sedangkan yang dimaksud perbendaharaan kata atau kosa kata suatu bahasa adalah keseluruhan kata yang dimiliki oleh sebuah bahasa.










3. MAKNA KATA

Kata sebagai satuan dari perbendaharaan kata sebuah bahasa mengandung dua aspek yaitu aspek bentuk atau ekspresi dan aspek isi makna. Bentuk atau ekspresi adalah segi yang dapat dicercap dengan pancaindria, yaitu dengan mendengar atau melihat. Sebaliknya segi isi atau makna adalah segi yang menimbulkan reaksi dalam pikiran pendengar atau pembaca karena rangsangan aspek bentuk tadi. Makna kata dapat di batasi sebagai hubungan antara bentuk dengan hal atau barang yang diwakilinya (referennya). Menurut Odgen dan Richard dalam the meaning of the meaning, simbol adalah unsur linguisti (kata atau kalimat) , refere adalah objek (dalam dunia pengalaman), sedangkan referensi atau pikiran adalah konsep. Menurut teori itu tidak ada hubungan langsung antara simbol dan referen, hubungannya harus melalui konsep. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa seseorang yang telah mengetahui sebuah referen (barangnya) tetapi tidak tahu bagaimana mengacunya, ia tidak tahu katanya. Tetapi sebaliknya juga benar; kalau ia mengetahui katanya( bentuk), tetapi tidak tahu referennya berarti ia tidak mengetahui maknanya juga, yaitu ia tidak mengetahui hubungan antara bentuk dan referennya. Mengetahui sebuah kata haruslah mengetahui kedua-duanya bentuk (kata), dan referennya.


4. MACAM-MACAM MAKNA KATA

Pada mumnya makna kata pertama-tama dibedakan atas makna yang bersifat denotatif dan makna kata yang bersifat konotatif. Kata yang tidak mengandung makna atau perasaan-perasaan tambahan disebut kata denotatif, atau maknanya di sebut makna denotatif; sedangkan makna kata yang mengandung arti tambahan, perasaan tertentu atau nilai rasa tertentu dinamakan makna konotatif atau konotasi.

a. Makna denotatif
Makna denotatif disebut juga beberapa istilah lain seperti makna denotasional, makna kognitif, makna konseptual, makna ideasional, makna referensial, makna proposisional. Dalam bentuk yang murni, makna denotatif di hubungkan dengan bahasa ilmiah. Seorang penulis yang hanya ingin menyampaaikan informasi kepada kita, dalam hal ini khususnya bidang ilmiah akan berkecendrungan menggunakan kata-kata denotatif. Sebab pengarahan yang jelas terhadap fakta yang khusus, adalah tujuan utamanya. Contohnya :
1. Rumah itu luasnya 250 meter persegi (denotatif)
2. Rumah itu luas sekali ( konotatif)
3. Ada seribu orang yang menghadiri pertemuan itu (denotatif)
4. Banyak sekali orang menghadiri pertemuan itu (konotatif)
5. Meluap hadirin yang mengikuti pertemuan itu (konotatif)

Makna denotatif dapat dibedakan atas dua macam relasi yaitu relasi antara sebuah kata dengan barang individual yang diwakilinya dan relasi antara sebuah kata memgdengan ciri-ciri atau perwatakan tertentu dari barang yang diwakilinya. Pengertian kursi adalah ciri-ciri yang membuat sesuatu disebut dengan kursi bukan sebuah kursi individual.

b. Makna Konotatif
Konotatif atau makna konotatif disebut juga makna konotasional, makna emotif, atau makna evaluatif. Makna konotatif adalah suatu jenis makna dimana stimulus dan respon mengandung nilai-nilai emosional. Makna konotatif sebagian terjadi karena pembicara ingin menimbulkan perasaan setuju,tidak setuju,senang tidak senang dan sebagainya. Pada pihak pendengar; dipihak lain, kata yang dipilih itu memperlihatkan bahwa pembicaranya juga memendam perasaan yang sama.
Pilihan kata atau diksi lebih banyak bertalian dengan pilihan kata yang bersifat konotatif. Bila sebuah kata mengandung konotasi yang salah, misalnya kurus-kering untuk menggantikan kata ramping dalam sebuah konteks yang saling melengkapi, maka kesalahan semacam itu mudah diketahu dan diperbaiki. Sangat sulit adalah perbedaan makna antara kata-kata yang bersinonim, tetapi juga mungkin mempunyai perbedaan arti yang besar dalam konteks tertentu. Ada sinonim-sinonim yang memang hanya mempunyai makna denotatif tetapi ada juga sinonim yang mempunyai makna konotatif. Misalnya kata mati, meninggal, wafat,gugur mangkal, berpulang, memiliki denotasi yang sama yaitu peristiwa dimana jiwa seseorang meninggalkan badanya. Namun kata tersebut mengandung konotasi tertentu yaitu mengandung nilai kesopanan atau dianggap lebih sopan. Sedangkan mangkat mempunyai konotasi lain yaitu mengandung nilai kebesaran, dan gugur mengandung nilai ke agungan dan keluhuran, sebaliknya kata persekot , uang muka atau panjar hanya mengandung makna denotatif.

5. KONTEKS LINGUIS DAN NON LINGUISTIS
Kata atau bahasa mempunyai relasi dengan dunia nyata. Istilah referensi dipakai untuk menyatakan relasi antara bahasa dengan sesuatu yang bukan bahasa. Bidang yang mempelajari hubungan itu biasa disebut semantik. Relasi semacam itu dinamakan pengertian |(sense). Dengan demikian dapat dibedakan dua macam relasi, yaitu relasi antara bahasa dengan dunia pengalaman, yang disebut referensi atau makna, dan relasi antar unsur-unsur bahasasendiri yang disebut pengertian (sense).
a. Konteks Non linguistis
Konteks nonlinguistis mencakup duahal, yaitu hubungan antara kata dan barang atau hal, dan hubungan antara bahasa dan masyarakat atau disebut juga konteks sosial. Konteks sosial ini mempunyai peranan sangat penting dalam penggunaan kata atau bahasa. Penggunaan kata-kata seperti istri kawan saya dan bini kawan saya ; buaya darat itu telah melahap semua harta ndanya dan orangitu telah melahap semua harta bendanya; kami mintamaaf dan kami mohon ampun, semuanya dilakukan berdaakan konteks sosial, atau situasi yang dihadapi. Walaupun ada ahl9i yangmenolak konteks konteks nonlinguistis sebagaihal yang tidak berkaitan dengan bahasa, namun seperti tempak dari contoh-contoh diatas, konteks sosial bahasa ini merupakan bagian dari aparat linguistik. Menurut Firth, seorang linguis Inggros,konteks sosial itu mencakup ;
1. Ciri-ciri yang relevan dari partisipan ; orang-orang atau pribadi-pribadi yang telibat dlam kegiatan berbicara. Ciri-ciri ini dapat bewujud :
a. aksi verbal dari partisipan
b. aksi non verbal dai partisipan
2. obyek-obyek yang relevan
3. efek dari aksi verbal

b. Konteks Linguistis
Konteks linguistis adalah hubungan antara unsur bahasa yang sat dengan unsur bahasa yang lain. Konteks linguistis menckup konteks hubungan antara kata dengan kata dalam frasa atau kalimat, hubungan antar frasa dalam sebuah kalimat atau wacana danjuga hubungan antar kalimat dalam wacana.

Dalam konteks linguistik dapat muncul pengertian tertentu akiba perpaduan antara dua buah kata, misalnya : rumah ayah menganung pengetian :milik:, rumah batu mengandung pengertian dari atau bahannya dari; mmbelikan ayah menganng pengertian untuk benefaktif.

6. STRUKTUR LEKSIKAL
Yang dimaksud dengan struktur leksikal adalah bermacam-macam relasi semantik yang terdpat pada kata. Hibungan antara kata itu dapat berwujufd; sinonim; polisemi, homonimi, hiponimi, dan antonimi. Kelima macam relasi antara kata itudapat dikelompokkan atas ;
1. Relasi antara bentuk dan makna yang melibatkan sinonimi dan polisemi :
a. sinonimi : lebih dari satu betuk bertalian dengan satu makna.
b. Polisemi : bentuk yang sama memiliki lebih dari satumakna.
2. Relasi antara dua makna yang melibatkan hiponimi dan antonimi:
a. hiponimi : cakupan-cakupan makna dalam sebuah makna yang lain.
b. antonimi : posisi sebuah makna diluar sebuah makna lain.
3. Relasi antara dua bentuk yang melibakan homonimi yaitu satu bentuk mengacu kepada dua referen yang berlainan.

a. Sinonimi
Sinonimi adalah suatuistilah yang dapat dibatasi sebagai, 91) telaah mengenai bermacam-macam kata yang memilikimaknayang sama, atau 2) keadaan dimana dua kata atau ih memiliki makna yang sama. Sebaliknua sinonim adalah kata-kata yangmemiliki makna yang sama (syn = sama,onoma = nama). Kesinoniman kata dapat diukur dai duakriteria berikut :
(1).kedua kataitu harus saling bertuka dalam semua konteks ; ini disebut sinonim total;
(2). Kedua kata itu memiliki identitas makna kognitif dan emotif yang sama; halini disebut sinonim komplet.

Sinonim tak dapat dihindari dalam sebuah bahasa ; pertama-tama ia terjai karenaproses serapan (borrowing). Pengenalan dengan bahasa lain membawa akibat peberimaan kata-kata baru sebenarnya sudah ada padanannya dalam bahasa sendiri. Dalam bahasa Indonesia sudah ada kata jahat dan kotor masih diterima kata maksiat ; sudah ada kata karangan masih diangap perlu untukmenerima istilah baru risalah, artikel, makalah, atau esai. Serapan ini bukan hanya menyangkut referenya yang belum ada katanya dalam bahasa sendiri. Dalam hal ini sinonim terjadi karena menerima beberapa bentuk dari bahasa donor seperti : buku,kitab, pustaka’ sekolah dan madrasah; reklame,iklan, adpertensi.

Penyerapan kata-kata daerah kedalam bahasa Indonesia, juga menjadi penyebab adanya sinonim. Tempat kediaman berlainan mmpengaruhi pula perbedaan kosa kata yang digunakan,walaupun referennya sama. Kita mengenal kata tali dan tambang, parang dan golok, ubikayu dan singkong ,lempeng dan tanah liat dsbnya. Hampir sama dengan kelas sinonim ini adalah sinonim yang terjadi karena pengambilan data dari dialek yang berlainan : tuli dan pekak, sore dan petangdansebagainya.



b. Polisemi Dan Homonimi
Kata polisemi yang berarti satu bentuk mempunyai beberapamakna,dua kataatau lebih tetapi memiliki bentuk yang sama. Dalam polisemi kita hanya menhadapi satukata saja, sebaliknya dalam homonimi kita sebenarnya menghadapi dua kata atau lebih. Kata korban dalam KUBI (kamus Umum Bahasa Indonesia ) dijelaskan sebagai memiliki makna (1)pemberian untuk menyatakan kebaktian, (2) orangyang menderita kecelakaan karena sesuatu perbuatan, (3) orangyang meningal karena tertimpa bencana . ketiga makna iniberdekatan satu sama lain dan dalam kamus biasanya ditempatkan dibawah satu topik yang sama. Dari KUBI kita juga mencatat data yang lain, yaitu ada kata bisa yang berarti: (1) zat racun yang dapatmenyebabkan luka, busuk atau mati pada sesuatu yang hidup,(2) mengandung zat racun (berbisa), (3) sesuatu yang buruk yang dapat merusak akhlak dan bisa II yaitu berarti dapat; boleh; mungkin. Contoh pertama diatas (korban) adalah polisemi, dan contoh yang kedua (bisa I, bisa II ) adalah hominimi .

Dalam bahasa Indonesia kadang-kadang homonim masih dapat dibedakan lagi atas homograf danhomofon, karena kesamaan bentuk itu dapat dilihat dari sudut ejaan atau ucapan. Ada homonim yang homograf dan homofon artinya baik ejaan maupun ucapannya sama, seperti tampak pada kata bisa I dan bisa II, alat I (perabot, perkakas) dan alat II (jamu, tamu), amat I (sangat) dan amat II memperhatikan , buram I konsep dan buram II tak bercahaya . ada homonim yang homograf yang tak homofon yang berati ejaannya sama tetapi ucapannya berbeda, seperti sedan I(sedu, rintih) dan sedan II (mobil penumpang), seri I cahaya seri II mengisap seri II balui danseri IV rangkaian. Dalam kasus ini seri I,II,III bersifat homonim yang homograf dan homofon, tetapi antara seri I,II,III disatu pihak dan seri IV dipihak lain merupakan homonim yang homogrf yan tak homofon.

c. Hiponimi
Adalah semacam relasi antar kata yang berwujud atas bawah, atau dalam suatu makna terkandung sejumlah komponen yang lain. Karena ada kelas asta yangmencakup sejumlah komponen yang lebih kecil, dan ada sejumlah kelas bawahyang merupakan komponen-komponenyang tercakup dalam kelas atas, maka kata yang berkedudukan sebagaikela isebut superordinat dan kelas bawah yang disebut hiponim.
Kata bungamerupakan suatu superordinatyang membawahi sejumlah hiponim antaralain : maar,mel;ati, sedap malam, flamboyan, dan gladiol. Tiap hiponim pada gilirannya dapatmenjadi superordinat bagi sejumlah hiponim yangbernaung dibawahnya, misalnya ada mawar merah, mawar putih,mawar oranye, dan sebagainya. Dalam keterbatasan istilah dapat juga terjadi bahwa istilah yang sama dapat dipakai lebih dari satu kali bagi hirarki yangberbeda.

d. Antonimi.
Istilah antonimi dipakai untukmenyatakan “ lawan makna”, sedangkan kata yang berlawanan isebut antonim. Sering kali antonim dianggap sebagai lawan kata dai inonim,namn anggapan itu sangat menyesatkan. Antonim adalah relai antar makna yang wujudnya logis sangat berbda atau bertentangan : benci- cinta, panas- dingin, timur-barat, suami- istri dsbgnya. Bila dibandingkan dengan sinonimi, maka antonimi merupakan hal yang waja dalam bahasa.

Bab III
KAMUS SEBAGAI SUMBR DIKSI
1. MACAM-MACAM KAMUS
Kamus dibedakan menurut luas lingkup isinya. Ada kamus umum,ada kamus khu,ada kamu istilah, yang sebenarnya merupakan varian dari kamus khusus, ada kamus eka bahasa kamus dwi bahasa , danmalah ada kamus multi bahasa. Melihat sifatnya ada kamus standar, dan ada kamus non standar.
Yang dimaksud dengan kamus umum adalah kamus yang memuat segala macam topik yang ada dalam sebuah bahasa. Bila kamus itu hanya memuat kata-kata dari suatu bidang tertentu, maka kamus itu disebut kamus khusus atau kamus istilah. Kamus eka bahasa jelas merupakan kamus mengenai suatu bahasa tertentu. Sebaliknya kamus yang memuat dua bahasa dan banyak bahasa disebut kamus dwi bahasa dan kamus muti bahasa. Kamus standar merupakan kamus yang diakui dan memuat kata- kata yang standar dalam suatu bahasa. Kamus umum bahasa indonesia (kubi) adalah kamus umum yan ekabahasa dan bersifat standar.

2. SIFAT KAMUS
Setiap penyusun kamus (leksikograf) yang baik mencata kata-kata yang dijumpainya hanya sampai saat sebelum kamus itu diterbitkan. Yang dimaksud demikan adalah bukannya waktu kamus itu dikeluarkan dari percetakan, tetapi waktu kamus itu mulai diketik sebagai sebuah naskah yang akan dikirim ke penerbit . pengetikan itu sendii sudah memerlukan waktu yang tidak sedikit. Belum lagi urusan-urusan lain antara penulis dengan pihak penerbit, dan antara pihak penerbit dan pihak percetakan. Semua ini memakan waktu yang cukup lama. Sementara itu kata-kata baru akan tetap bermunculan dalam bahasa, atau kata-kata yang mengalami perluasan makna. Leksikograf mhanya mencatat kata-kata secara konservati, sehingga pada saat kamus itu muncul dalam masyarakat, ia suda ketinggalan jaman.
Selain dari alasan tersebut diatas, ada juga faktor lain mengapa sebuah kamus tidak selalu memuakan pemakainya. Betapapun cermatnya seorang leksikograf , pasti ada satu-dua kata yang luput dari pengamatannya, malahan ada pula arti yan luput dari pencatatannya. Meskipun katanya sendir ada dalam kamus. Pencatatan kata-kata bersama maknanya biasanya dilakukan dengan mempergunakan bahan publikasi. Dalam suau wilayah bahasa yang luas dengan beraneka ragam kegiatan publikasi, sangat sulit bagi seorang leksikograf untuk memperoleh semua bahan tersebut. Inilah faktor kedua yang mempengaruhi sifat sebuah kamus, apakah ia memuaskan atau tidak memuaskan para pemakainya.
3. SUSUNAN KAMUS
Sebuah kamus yang baik biasanya terdiri dari tiga bagian utama , yaitu bagian pendahuluan, isik kamus dan bagian pelengkap.
a. Bagian pendahuluan
Biasanya sebelum daftar kata menjadi inti kamus, terdaodapat bagian pendahuluan yang memuat keterangan tentan cara menggunakan kamus itu. Kamus umum bahasa indonesia misalnya dalam bagian pendahuluan memuat hal-hal berikut :
a. .keterangan abjad dan ejaan
b. keterangan mengenai perbendaharaan kata
c. keterangan mengenai batasan nkata dan keterangan lainnya
d. tentang susunan dan urutan kata yang diterangkan
e. tanda –tanda yan dipakai dan kependeknya atau singkatan-singkatan yang dipergunakan. Cara mana saja yang dipergunakan tidak menjadi soal. Yang penting adlah harus disiapsiapkan sebuah bagian oendahuluan yang memuat keterangan-keterang yang diperlukan oleh setiap kamus. Unsur-unsur astau pokok-pokok mana yang dimasukkan dalam baigaian pendahuluan ini, terganut dari pertimbangan penyusunanan dan kebutuhan tiap bahasa.
b. Isi kamus
Isi kamus merupakan bagian yang terpenting dari sebuah kamus. Isi kamus terdiri dari daftar kata yan disusun menurut abja, disertai keterangannya. Kamus Umum Bahasa Indoneisa , misalnya mempergunakan abjad latin yaitu a,b,c,d,e,f,g,h,i,j,k,l,m,n,o,p,q,r,s,t,u,v,w,x,y,z,. Dengan demikian beberapa fonem tidak diberi status tersendiri tetapi dimasukkan dalam huruf awal yang digunakanya, misalnya : ny, ng dimaskukan dalam huruf n, dan kh dimsukkan dalam huruf k.
Untuk setiap pokok dalan daftar itu disertakan sejumlah keterangan. Keterangan yan dapat diperoleh mengenai sebuah kata adalah : ejaan yang resmi, suku kata, aksen, kapitalisasi, ucapan, kelas kata, etimologi, definisi , sinonim dan bentuk-bentuk turunan.

c. Bagian pelengkap
Kamus yang baik biasanya menambahkan suatu bagian pelengkap. Bagian ini terdiri dari kata dan frasa asing, tokoh mitologis dan literer, tokoh terkenal dan nama geografis, dan hal-hal lain yan diangap perlu. Kecua;i mengenai kata dan frasa asing .

4. ISI KAMUS
adapun pokok-pokok isi kamus yang akan diuraikan dibawah ini :
a. ejaan
Dalam beberapa hal terdapat dua bentuk untuk sebuah kata yang sama. Dalam hal ini kedua bentuk itu sama lazim, atau slah satunya lebih lazim dari yang lain : liwat-lewat, nasihat-nasehat, kukuh –kokoh, kurban-korban, hafal-hapal, afal-apal dan sebagainya.
b. suku kata
Suku kata adalah bagian dari sebuah kata yang membentuk suatu kesatuan puncak kenyaringan. Kecuali kata-kata yang monosilabis suku kata adalah bagian dari sebuah kata yang membentuk suatu kesatuan puncak kenyaringan. Kecuali kata-kata yang monosilabis (yaitu kata-kata yang terdiri dari satu (yaitu kata-kata yang terdiri dari satu stu suku kata saja : mas, las, khas, bab dan sebagainya) suku kata sangat penting untuk diketahui setiap orang terutama dalam hubungan dengan pemisahan sebuah kata atau bagian-bagiannya, khususnya pada akhir sebuah baris. Dalam tulisan harus diadakan pemisahan suku kata dengan cermat.
Suku kata dalam bahasa indonesia (tidak termasuk kata jadian) dapat terdiri dari : V(Vokal), VK (Vokal- Konsonan), KV (Konsonan-Vokal) dan KVK (Konsonan-Vokal-Konsonan). Ciri ini merupakan ciri kata Indonesia asli. Dengan demikian semua kata Indonesia asli yang tediri dari dua suku kata atau lebih terdiri dari gabungan itu, kecuali antar VK+V,VK+VK,KVK+V dan KVK+VK karena struktur itu akan ditampung dalam gabungan V+ KV, V+ KVK, KV+ KV, KV dan KV+ KVK .

c. Aksen
Agar sebuah kata dapat di ucapkan dengan benar, maka kata-kata dalam sebuah kamus dapat diberi tanda-tanda tekanan pada suku-suku kata yang patut mendapat tekanan. Bahasa-bahasa yang memiliki tekanan membedakan empat macam tekanan , yaitu trkanan paling keras (accent aigu), tekanan keras (accent grave), tekanan lembut dan tekanan paling paling lembut. Keempat macam tekanan itu berturut-turut dilambangkan dengan simbol (‘),(‘),(~).
Tekanan dalam bahasa Indonesia pertama-tama tidak mempunyai peranan sebagai pembeda arti seperti pada beberapa bahasa Barat. Disamping itu persoalan tekanan itu sendiri menjadi perdebatan yaitu dimana terletak tekanan keras dalam bahasa Indonesia . umumnya ada dua pendapat yan sau berpendirian bahwa tekanan keras terletak pada suku kata terakhir, sedangkan pendapat yang lain mengatakan bahwa tekanan terletak pada suku kedua dari akhir . sebenarnya perbedaan pendapat itu tidak perlu dibesa-besakan sebagai hal yang prinsipil, meningat pendirian-pendirian itu sebenanya terletak dari pengauh bahasa daerah main-masing.
d. Kapitalisasi
Huruf-huruf kapital atau huruf besar dalam sebuah kamus bukan saja dipergunakan untuk kata-kata kepala yang perlu mendapat huruf kapital, tetapi huruf awal bait dari kata dasarnya maupun unsur tambahan yang ditempatkan pada awal kata itu. Misalnya sebagai kata nama kata-kata.


e. Ucapan
Cara mengucapkan sebuah kata, dapat pula dimasukan dalam sebuah kamu. Gunanya jelas, yaitu membantu para pemakai, agar dapat mengucapkan sebuah kata dengan bena dn tepa. Keterangan mengenai ucapan (kalau ada) langsung ditempatkan di belakang kata yang bersangkutan . ucapan itu ditulis dengan simbol-simbol fonetis, yang bagi bahasa Indonesia boleh dikatakan sama dengan simbol ejaan resmi, kecuali bebeapa.

f. Kelas kata
Agar setiap pemakai kamus segea mengeahui apa kela sebuah kata, maka sesudah keerangan mengenai ucapan, icanumkan pula keteangan mengenai kelas katanya. Dalam kamus-kamus bahasa inggris misalnya dicantumkan singkatan-singkaan sprti v. Yang berarti verb atau kata kerja; verb biasanya dibdakan lagi menjai v.t singkatan dari verb transitive atau kata kerja transitif, v.i singkatan dari verb intransitif atau kata kerja intransitif, singkata lain untuk menunjukkan kelas kata adalah
n : Noun (kata benda)
Ad : Adjective (kata sifat)
Adv : adverb ( kata keterangan)
Prep : preposition ( kata depan)
Conj : conjunction (kata sambung)

Pencantuman keterangan mengenai kelas kata ini brtujuan agar pemakai kamus tida ragu-ragu memprgunakan sebuah kata dalam sebuah kalimat. Berdasarkan kelas katanya itu, ia harus tahu kata mana yang bisa menjadi subyek, obyek, predikat dan keterangan.


g. Etimologi
Kamus yang baik meyertakan pla keerangan tentang asal usul katanya atau etimologinya, bila hal itu mememang ada. Agaknya kebanyakan dari kita mengangap bahwa asal usul kata itu tidak perlu diketahui yang perlu ialah mengetahui arti kata yang berlauk dewaa ini. Walaupum anggapan ini tidak dapat ditolak , namun tidak dapat disangkal bahwa mengetahui asal usul sebuah kata dengan maknanya yang dahulu, sering lebih memantapkan makna itu daripada sekesar menghafal arti yang sekarang.

h. Definisi
Inti dari sebuah kamus adalah memberikan batas pengertian (definisi) sebuah kata. Pengertian batasan atau definisi disini pun tidak bisa diartikan secara formal tetapi dibuat secara singkat dan sederhana. Karena arti kata itu sering kali mengalami perubahan dan pergeseran makna, maka sesudah diberikan pengertian yang setral disertai pula arti yang sudah bergeser itu . kadang-kadang terjadi pula bahwa kata yang tidak bisa diberi batasan artinya, hana semacam keterangan umum (klaifikasi). Misalnya : besusu : umbi yang boleh dimakan. Umbi yang macam mana? Kita tidak pernah tahu jenis umbi yang macam mana yang boleh dimakan itu dinamakan besusu.
i. Sinonim
Secara populer dikatakan bahwa sinonim adalah kata-kata yang sama artinya. Dalam garis besarnya memang demikian. Namun bia diteliti lebih cermat, sebenarnya tidak ad dua kata yang seratus persen bersinonim. Antara dua kata selalu terdapat perbedaan, walaupun sedikit saja, entah perbedaan itu berupa perasaan kata saja maupu perbedaan makna dan perbedaan lingkungan yang boleh dimasukinya. Misalnya kata buas : 1. Galak; ganas . Kita tahu bahwa binatang yang buas adlah binatang yang galak dan ganas, tetapi binatang yang ganas belum tentu binatang buas.

5. KATA DAN FRASA ASING
Dalam tata cara dan kehidupan ilmiah sering kali ada kata –kata asing diisipkan saja ditengah-tengah kalimat yang mempegunakan bahasa lain. Dalam teks bahas Indonesia, dapat saja muncul kata-kata atau frasa asing solah-olah kata asing itu berada dalamlingkungan yang asing itu kita mengenal banyak kata atau frasa asing smacam itu dari bahasa Barat anatara lain dari bahasa Latin, Prancis, dan sebagainya.




BAB IV
PERLUASAN KOSA KATA

1. PENDAHULUAN
Untuk memahami bagaimana seseorang dapat menguasai kosa kta seperti keadaannya sekarang ii, marilah kita lhat kebelakang . pada saat ini, sebagai orang yang telah dewasa kita sanggup mengutarakan pikiran da perasaan kita melalui rangkain kata-kata dalamkonstruksi yang tidak terbilang banyaknya. Dengan sendirinya hal ini adalah suatu karya besar dalam kehidupan individual tiap orang , tetapi tidak pernah terlintas dalam pikiran kita untuk mengaguminya sebagai suatu karya besar. Kosa kata harus terus-menerus diperbanyak dan tak dapat dibatasi dan harus diperluas , pertama-tama sesuai dengan tuntutan usia yang semakin dewasa ingin mengetahui semua hal, kedua sesuai dengan perkembangan dan kemajuan masyarakat yang selalu menciptakan kata-kata baru. Untuk mudah berkomunikasi dengan anggota masyarakat yang lain, setiap orang perlu memperluas kosakatanya, perlu mengetahui sebanyak-banyaknya perbendaharaan kata dalam bahasanya.
2. TINGKAT PERLUASAN KOSA KATA
a. Masa Kanak-kanak
Perluasan kosa kata pada anak-anak lebih ditekankan kepada kosa kata, khususnya kesanggupan untuk nominasi gagasan-gagasan yang konkret. Ia hanya memerlukan istilah untuk menyebutkan kata-kata secara terlepas. Semakin dewasa, ia ingin mngetahui sebanyak-banyaknya nama barang-barang yang berada disekitarnya. Ia ingin mengetahui sebanyak-banyaknya nama-nama bagian tubuh, menyebutkan anggota keluarga. Ia ingin mebetahui bagaimana menyebutkan bagian-bagian rumah, dan semua yang ada disekitarnya.
b. Masa Remaja
Pada waktu anak mulai menginjak bangku sekolah, proses tadi masih berjalan terus ditamba dengan proses yang sengaja diadadakan untuk menguasai bahasanya dan memperluas kosa katanya. Proses yang sengaja diadakan ini adalah proses belajar, baik melalui pelajaran bahasa maupun mata pelajaran lainnya. Dalam mata pelajaran non bahasa diberikan juga bermacam-macam pengertian dan istilah, walaupun lambat tetapi pasti tetap melangkah maju. Proses ini berlangsung mulai dari sekolah dasar terus kesekolah lanjutan.
c. Masa Dewasa
Sebagian besar waktu hidup seseorang dipergunakan utnk bertukar pikiran atau berkomunikasi dengan orang lain, mulai dengan orang tua, sanak saudara, kawan-kawan, dan teman-teman sejawat. Singkat kata, dengan segala macam lapisan masyarakat dimana saja berada terjadilah komunikasi itu. Komunikasi ini secara khusus akan lahir dalam bentuk memberi dan menerima naihat-nasihat dan petunjuk-petunjuk bagi langkah kita sehari-hari; berupa memberi dan menerima perintah dalam usaha kontrol sosial; berupa menerima dan memberi informasi, dalam mengmukakan pendapat tentang masalah-masalah yang dihadapi. Segala segi kegiatan dn kemasyarakatan harus disalurkan dan ditanggapi dengan bahasa.

3. CARA MEMPERLUAS KOSA KATA
Cara memperluas kosa kata seseorang antara lain dapat dikemukakan : melalui proses belajar, melalui konteks, melalui kamus, kamus sinonim dan tesaurus dengan menganalisis kata-kata.
a. Proses Belajar
Perluasan kosa kata melalui proses belajar dilakukan dilembaga-lembaga pendidikan. Peranan yang aktif adalah pendidikannya. Para pendidik, melalui pelajaran bahasa dan mata pelajaran lainnya memperkenalkan bermacam-macam istilah yang baru. Istilah yang baru itu harus diberikan bersama uraian mengenai gagasan yang tepat. Kesalahan atau kekurangcermatan akan mengakibatkan anak didik salah mearisi pengertian yang tepat.
b. Konteks
Yang dimaksu dengan konteks adalah lingkungan yng dimasuki sebuah kata. Dalam banyak hal kosa kata diperluas melalui sebuah konteks, baik lisan maupun tertulis. Pengertian kata yang diperoleh denga cara itu tergantung dari ketajaman orang yang mengamati teks itu, taua bermacam-macam teks lainnya yang juga menganung kata yang sama.

Konteks dapat membuat perbedaan pengertian yang sangat menyolok. Bahkan kombinai yang sama dari kata-kata dapat menghailkan makna yang sangat berbeda dalam lingkungan kontekstual yang berlainan, misalnya :
Saya bisa membaca
Ia menelan bisa ular itu
Resi itu berapa bertahun-tahun di gua itu
Ia tidak mnyampaikan resi surat itu kepada ayahnya.
Kita dapat memperbanyak ontoh-contoh diatas. Dari contoh-contoh yang singkat diatas tamoak jelas bahwa konteks sangat banyak membantu menetapkan arti sebuah kata.
c. Kamus, Kamus Sinonim Dan Tesaurus
Kamus menyuguhkansebuah daftar kata, masing-masing dengan batasan pengertian yang sedang berlaku atau yang tidak berlaku lagi, pengertian yang umum dan khusus, bentuk turunannya, memberi sugesti bagaiman hubungannya dengan sebuah kalimat, dan sering pula mencantumkan konotasinya.

Sebuah kamus bersinonim bermanfaat sebagai sebuah pelengkap bagi kamus biasa. Nilainya terletak dalam usha untuk membeda-bedakan konotasi-konotasi, yaitu sugesti-sugesti yang ditimbulkan oleh kata-kata yang tampaknya mempunyai arti yang sama, teapi tidak saling melengkapi. Misalnya : buku-kitab, cepat-lekas-segera, kikir-pelit dan sebagainya. Juga ia brguna sebagai penemu kata, mengingatkan kita kepada sebuah kata yan iketahui tetapi tidak dapat diingatkan segera pada saat itu.

Tesaurus adalah sebuah khasanah kata untuk keprluan sendiri. Buku ini disusun menurut sebuah sistem tertentu, terdiri dari gagasan-gagasan yang mempunyai pertalian timbal balik, sehingga setiap pemakainya daat memilih istilah atau kata yang ada di dalamnya.



d. Menganalisis Kata
Salah satu cara lain untuk memperluas perbendaharaan kata adalah menganalisis sebuah kata. Pada waktu membicarakan persoalan etimologi kata, telah disinggung pula persoalan analisis kata itu. Bahasa Indonesia mengenal pula konsep akar kata namun konsep akar kata dalam bahasa Inoensia agak berbedabila dibaningkan dengan bahs-bahas lain seprti Sanskerta, lati, dan Yunani. Akar kata dalam bahas Indonesia merupakan hasil dari sebuah analisa hipotesis, karena tidak produktif lagi. Misalnya ada akar kata kit yang diperkirakan berarti “naik” , misalnya kata rakit, sakit, ungkit, bukit, bangkit, dan sebagainya. Daria akar kata itu tidak dapat dipakai seenaknya untuk membentuk kata-kata baru , seperti halnya dengan bahasa sanskerta, Arab, Latin dn Yunani. Akar kata dalam bahasa-bahasa itu aih aktif dan produktif dalam pembentukan kata-kata baru.


4. MENGAKTIFKAN KOSA KATA
a. Kata Aktif dan Pasif
Yang dimaksud dengan kata-kata akti adalah kata-kata yang sering dipergunakan seseorang dalam berbicara atau menulis. Kata-kata itu seolah-olah terlontar keluar tanpa dipikr panjang untuk merangkaikan gagasan-gagasan yang dipikirkan pembicara atau penulis. Sebalikbya kata-kata pasif adalah kata yang dapat dikatakan hmapir tidak dapat dipergunakan oleh seseoang, tetapi akan menimbulkan reaksi bahasa bila didengar atau dibaca oleh orang tadi.
Sebab itu persoalan kata-kata aktif, atau lebih jauh persoalan mengaktifkan kosa kata seseorang adalah proses kata menjadi kata-kata yang bisa dipergunakan sehari-hari dalam pergaulan. Suatu usaha mengubah kemampuan atas kata-kata, sehingga kata-kata seseorang dengan cepat dan lancar terlontar keluar dari mulut pembicara.
b. Cara Mengaktifkan Kosa Kata
1. Diluar Kemauan Seseorang
Proses yang terjai iluar kemauan seseorang terjai bila orang itu secara terus menerus mendengar atau membaca sebuah kata yang baru. Proses ni biasanya terjai didalam dunia pendidikan, bila guru-guru atau pengajar-pengajar secara terus menerus mempergunakan istilah-istilah atau kata-kata yang baru didalam pelajarannya. Diluat dunia pendidikan, proses pengaktifan kosa kata dapat juga dilakukan diluar kemauan seseoang. Seseorang yang secara terus menus membaca atau mendengar sebuah kata atau istilah dalam surat kabar, majalah atau melalui telvisi, radio, dan pidato-pidato akan mudah mngingat kata-kata itu. Maknanya dicoba diturunkan dari konteksnya, sehingga dengan membaca atau mendengar ecara terus menerus tadi, kata itu menjadi hidup dan dapat igunakannya dengan cepat dan lancar.
2. Dengan kemauan seseorang
a. lebih sering mempergunakan kata tertentu
Cara yang pertama mengaktifkan kosa kata dengan kemauan seseorang adalah dengan sengaja lebih sering mempergunakan sebuah bentuk yang baru didengar atau dibaca. Sesudah mendapat kepastian tentang makna, linkungan dan kemungkinan-kemungkinan bentuk yang daoat diambil sebuah kata , harus diusahakan agar kata itu sering dipergunakan baik didalam tutur maupun dalam tulisan-tulisan.

b. Mempertajam pengertian kata
Cara yang kedua dalam usaha mmeprbesar jumlah kata yang aktif adalah memeprtajam pengertian kata-kat tertentu, degan membeda-bedakan nuansa arti yang didukungnya maing-masing, misalnya penelitian, pengamatan, penyidikan, sesuai, cocok, dan sebagainya. Demikianlah daftar semacam diatas bisa iperbanyak dengan sasaran untuk mngetahui lebih cermat lagi perbedaan makna dan nilai rasa yang didukung masing-masing kata.
a. Menertibkan pemakaian kata yang khas
Metode yang ketiga adalah menertibkan diri sendiri untuk mencari kata-kata yang kha, bila menulis atau membicarakan sesuatu yang khusus . Usaha untuk menemukan kata-kata yang kha ini memaksa kita untuk menemukan kata-kata yang bersinonim dari kosa kata itu, lalu menetapkan kata mana yang paling cocok untuk peristiwa atau persoalan tadi.



BAB V
PENDAYAGUNAAN KATA DAN KETEPATAN PILIHAN KATA
1. KETEPATAN PILIHAN KATA
Persoalan pendayagunaan kata pada dasarnya berkisar pada dua persoalan pokok, yaitu pertama, ketepatan memilih kata untuk mengungkapkan sebuah gagasan, hal atau barang yang akan diamanatkan, dan kedua kesesuaian atau kecocokan dalam mempergunakan kata tadi. Ketepatan pilihan kata mempersoalkan kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca atau pendengar, seperti apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh penulis atau pembicara.


2. PERSYARATAN KETEPATAN DIKSI
Beberapa butir dan persoalan berikut hendaknya diperhatikan setiap orang agar bisa mencapai ketepayan pilihan katanya itu.
1. Membedakan secara cermat denotasi dari konotasi.
2. Membedakan dengan jermat kata-kata yang hampir bersinonim.
3. Membdakan kata-kata yang mirip dalam ejaannya.
4. Hindarilah kata-kata ciptaan sendiri.
5. Waspadailah terhadap penggunaan akhiran asing, terutama kata-kata asing menganung akhiran asing tersebut.
6. Kata kerja yang menggunakan kata depan harus digunakan secara idiomatis.
7. Untuk menjamin ketepatan diksi, penulis atau pmbicara harus membedakan kata umum dan kata khusus.
8. Mmeprgunakan kata-kata indria yang menunjukkan persepsi khusus.
9. Memperhatikan perubahan makna yang terjai pada kata-kata yang sudah dikenal.
10. Memperhatikan kelangsungan pilihan kata.


3. KATA UMUM DAN KATA KHUSUS
a. Kata Umum
1. Gradasi Kata umum
Semakin umum sebuah kata, semakin sulit tercapai titik pertemuan anatara penulis dan pembaca.sebuah kata benda seperti anjing misalnya akan menimbulkan daya khayal yang berbda antara penulis dan pmbaca. Kita tidak tahu bagaimana tepaynya pengertian dan ciri-ciri anjing itu. Walaupun kata anjing oleh kebanyakan orang diangap tidak akan membawa interretai namun lainlah kenyataannya. Setiap orang yang mendengar kata itu akan teringat pada sesuatu yang dikenalnya.
2. Kata abstrak
Kesuliatan yang sama yang sama kita hadapai lagi pada waktu mendengar atau membaca kata-kata abstrak dan kata yang menyatakan generalisasi. Banyak kosakata terbentuk sebagai akibat dari konsep yang tumbuh dalam pikiran kita, buka mengacu kepa hal yang konkret. Misalnya pada kata-kata : kepahlawanan, kenajikan,keluhuran, kepercayaan dan sebagainya.
b. Kata khusus
1. Nama diri
Pada umumnya, telah isepakati bahwa nama diri adalah istilah yang palimg khusus, sehingga menggunakan kata-kata tersebut tidak akan meimbulkan salah paham. Bahwa nama diri itu merupakan kata kusus dan tidak boleh disamakan dengan kata denotatif.
2. Daya sugesti kata khusus
Kata-kata yang kongkret dan khusus dengan demikian menyajikan lebih banyak lagi informasi kepaa pembaca. Tetapi disamping memberi inormai kepada pembaca kta khusus juga memberi sugesti yang jauh lebih mendalam. Contoh : gelendangan itu tertatih-tatih sepanjang trotoir itu . Orang miskin itu berjalan perlahan-lahan sepanjang trotoir itu. Kedua kalimat itu digunakan untuk mendeskripsikan hal yan sama yang dialami pembicara.
c. Penggunaan kata umum dan kata khusus
Kata-kata yang umum tetap diperlukan untuk pengababstraksian, generalisasi, pengkategorian pengalaman-pengalaman manusia, terutama dalam tulisan –tulisan yang ekspositoris. Dalam hal ini kebijaksanaan setiap penulis memegang peranan penting . ia tidak boleh mempergunakan kata abstrak atau kata umum lebih banyak diperlukan . apabila ia harus mempergunakannya, maka ada baiknya ia menyertakan juga contoh-contoh pengalaman-pengalaman mental, sehingga dapat tercapai titik pertemuan itu.

4 .KATA INDIRA
Suatu jenis pengkhususan dalam memilih kata-kata yang tepat adalah penggunaan istilah-istilah yang menyatakan pengalaman-pengalaman yang dicercap oleh panca indria, yaitu cerapan indira penglihatan, pendengaran, peraba, perasa dan penciuman. Karena kata-kata ini menggambarkan pengalaman manusia melalui panca indria yang khusus, maka terjamin pula daya gunanuya, terutama dalam membuat deskripsi. Gejala semacam ini disebut sinestesia . Contohnya : wajahnya manis sekali.
Suaranya manis kedengaran.
Meskipun terjadi gejala-gejala sinestesia tadi, namun pada umumnya tiap indira memiliki kata-kata yang khusus untuk mengungkapkan pengalaman atau penghayatan melalui masing-masing indira.

5. PERUBAHAN MAKNA
a. Terjadinya perubahan makna

Perubahan makna itu tidak saja mencakup bidang waktu, tetapi dapat juga mencakup persoalan tempay. Sebuah kata dengan arti yang mula-mula dikenal oleh semua anggota masyarakat bahasa,. Perubahan makna kata dalam arti yang luas, tidak hanya mencakup perubahan makna seperti yang dimaksud tadi, tetapi juga mencakup perubahan yang dapat dikatakan berada dalam dua ekstrim. Denganarti kata yang asli masih digunakan, sebaliknya dalam hubungan-hubungan tertentu maknanya mengalami perubahan.



b. Macam-macam Perubahan Makna
1. Perluasan Arti
Yang dimaksud dengan perluasan arti adalah suatu proses perubahan makna yang dialami ssebuah kata yang tadinya menganung suatu makna yang khusus , tetapi kemudian meluas sehingga melinkupi sebuah kelas makna yang lebih umum. Kata berlayar dulu dipakai dengan pengertian : bergerak di laut dengan menggunakan layar. Sekarang semua tindakan mengarungi lautan atau perairan dengan mempergunakan alat apa saja disebut berlayar.

2. Penyempitan Arti
Penyempitan arti sebuah kata adalah sebuah proses yang dialami sebuah kata dimana makna yang lama lebih lua cakupannya dari makna yang baru. Kata pala tadinya bearti buah pada umumnya, sekarang hanya dipakai untuk menyebutkan jenis buah tertentu. Kata sarjana dulu dipakai untuk menyebut seorang cendekiawan. Sekarang dipakai untuk gelar univesiter.

3. Ameliorasi
Ameliorasi adalah suatu proses perubahan makna, dimana arti yang baru dirasakan lebih tinggi atau lebih baik dari arti yang lama. Kata wanita dirasakan nolainya lebih tingi dai kata perempuan, kata istri atau nyonya dirasakan lebih tinggi dari pada kata bini.

4. Peyorasi
Peyorasi adalah suatu proses perubahan makana sebagai kebalikan dari ameliorasi. Dalam peyorasi arti yang baru dirasakan lebih rendah nilainya dari arti yang lama. Kata bini diangap lebih tingi pada jaman lampau, sekarang dirasakan sebagai kata yang kasar .


5. Metafora
Perubahan makna yang dinamakan peyorasi, ameliorasi, menyempit dan meluas dai nilai rasa dan luas lingkup makna dulu dan sekarang . disamping itu perubahan makna dapat dilihat dari sudut persepsi meiripan fungsional antaa dua obyek. Metafora adalah perubahan makana karena persamaan sifat antara dua obyek. Ia merupakan pengalihan semantik berdasarkan kemirpan persepsi makna. Contohnya kata matahari, putri malam(untuk bulan) pulau (empu laut ) semua ibentuk berdasarka metafora.

6. Metonimi
Metonimi sebagai suatu proses perubahan makna terjadi karena hubungan yang erat antara kata-kata yang telibat dalam suau lingkungan makna yan sama. Dan dapat iklasifikasikan menurut tempat atau waku, menurut hubungan isi dan kulit dan hubungan antara sebab dan akibat.


6. KELANGSUNGAN PILIHAN KATA
Suatu cara lain untuk menjaga ketepatan pilihan kata adalah kelangsungan. Yang dimaksudkan dengan kelangsungan pilihan kata adalah teknik memilih kata yang sedemikian rupa sehingga maksud pikiran seseorang dapat disampaikan secara tepat dan ekonomis. Kelangsungan dapat terganggu bila seorang pembicara atau pengarang mempergunakan terlalu banyak kata untuk suatu maksud yang dpat diungkpakan secara singkat, atau mempergunakan kata-kata yang kabur, yang bisa menimbulka ambiguitas (makna ganda).





Bab VI
PENDAYAGUNAAN KATA DAN KESESUAIAN PILIHAN KATA


1. KESESUAIN PILIHAN KATA
Perbedaan yang sangat jela antara ketepatan dn kesesuaian adlah bahwa dalam kesesuaian dipersoalkan apakah kita dapat mengungkapkan pikiran kita dengan cara yang sama dlam semua kesempatan dan lingkungan pikiran kita dengan cara yang sama dalam semua kesempatan dan lingkungan yang kita masuki. Dalam persoalan ketepatan kita bertanya apakah pilihan kata yang dipakai sudah setepat-tepatnya, sehingga tidak aka menimbulkan interprestasi yang berlainan antara pembicara dan pendengar, atau antara penulis dan pembaca; sedangkan dalam pesoalan kecocokan atau kesesuaian kita mempersoalkan apakah pilihan kata dan gaya bahasa yang dipergunakan tidak merusak suasana atau menyinggung perasaan orang yang hadir.



2. SYARAT-SYARAT KESESUAIAN DIKSI
Adapun syarat- nsyarat kesesuain diksi antara lain sebagai berikut :
1. hindarilah ejauh mungkin bahasa atau unsur substanda dalam situasi yang formal .
2. gunakanlah kata-kata ilmiah dalam situasi yang khsusu saja.
3. hindarilah jargon dalam tulisan untuk pembaca umum
4. penulis atau pembicara sejauh mungkin menghindari pemakaian kata-kata slang.
5. dalam penulisan jangan mempergunakan kata percakapan.
6. hindarilah ungkapan-ungkpan usang (idiom yang mati)
7. jauhkan kata-kata atau bahasa yang artifisial.



3. BAHASA STANDAR DAN SUBSTANDAR
Bahasa standar adalah semacam dialek kelas dn dpat dibatasi sebagai tutur dari mereka yang mengeyam kehidupan ekonomis atau menduduki status sosial yang cukup dalam suatu masyarakat.
Bahasa nonstandar adalah bahasa dai mereka yang tidak memperolh kedudukan atau pendidikan yang tinggi. Pada dasarnya, bahasa ini dipakai untuk pergaulan biasa, tidak dipakai dalam tulisan-tulisan.


4. KATA ILMIAH DAN KATA POPULER
Kata-kata ilmiah yang merupakan tulang pungung dari setiap bahasa. Kata-kata ini yang selau akan dipakai dalam komunikasi sehari-hari, baik antara mereka yang berada dilapisan atas dan lapisan bawah. Karena kata-kata ini terkenal makanya disebut kata populer. Kata-kata yang dipakai dalam situasi resmi dan diskusi-diskusi ilmiah disebut kata-kata ilmiah.

Perbedaan antara kedua jenis kelompok kata ini dapat igambarkan seperti dibawah ini :
Kata populer kata ilmiah
Sesuai harmonis
Pecahan Fraksi
Aneh eksentrik
Bukti Argumen

Dengan membedakan kata-kata ilmiah dn kata populer, maka setiap pengarang yangingin menulis suatu topik tertentu harus menetapkan dengan jitu siapakah yang menjadi sasaran tulisannya itu.

5. JARGON
Pengertian Jargon mengandung makna suatu bahasa, dialek, atau tutur yang dianggap kurang sopan atau aneh. Tetapi istilah itu dipakai juga untuk mengacu semacam bahas atau dialek hibrid yang timbul dari percampuran bahasa-bahasa dan sekaligus dianggap sebagai bahasa perhubungan atau lingua franca.

6. KATA PERCAKAPAN
Yang dimaksud dengan kata pecakapan adalah kata-kata yang biasa dipakai dalam percakapan atau pergaulan oran-orang terdidik. Termasuk didalam kategori ini adalah ungkapan-ungkapan gramatikaltertentu oleh kalangan ini. Pengertian percakapan disini sama sekali tidak boleh disejajarkan dengan bahasa yang tidak bena, tidak terpelihara atau yang tidak disenangi. Misalnya dok, prof , kep dsbgnya.

7. KATA SLANG
Kata-kata slang adalah semacam kata percakapn yang tingi atau murni. Kata slan adalah kata-kata nonstanar yang informal, yang disusun secara khas atau kata-kata biasa yang diubah secara arbiter. Kata slang dihasilkan dari salah satu ucapa yang disengaja, atau kadang kala berupa pengrusakan sebuah kata biasa untuk mengisi suatu bidang makna lain.

8. IDIOM
Yang disebut idiom adalah pola-pola struktural yang menyimpang dai kaidah-kaidah bahasa yang umum, biasanya berbenuk frasa, sedangkan artinya tidak bisa diterangkan secara logis atau secara gramatikal, dengan bertumpu pada makna kata-kata yang membentuknya. Misalnya makan garam, makan hati berulam jantung , makan suap dan sebagainya.

BAB VII
GAYA BAHASA

1. PENGERTIAN GAYA BAHASA

Gaya atau khususnya gaya bahasa dikenal dlam retorika dengan istilah style yaitu kemampuan menulis atau mempergunakan kata-kata secara indah. Karena perkembangan itu, gaya bahasa atau style menjai maslah atau bagian dai diksi atau pilihan kata yang mempersoalkan cocok tidaknya pemakaian kata, frasa atau klausa tertentu untuk menhadapi situasai tertentu.

Bila kita melihat gaya secara umum, kita dapat mengatakan bahwa gaya adalah cara mengungkapkan diri sendir entah itu melalui bahasa, tingkah laku , berpakai dan sebagainua. Style atau gaya bahasa dapat dibatasi sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yangmeperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa ).


2. SENDI GAYA BAHASA
Syarat sebuah gaya bahasa yang baik harus mengandung tiga unsur berikut yaitu : kejujuran, sopan-santun, dan menarik.


3. JENIS-JENIS GAYA BAHASA
Untuk melihat gaya bahasa secara luas , maka pembagian berdarakan masalah non bahasa tetap diperlukan. Tetapi untuk memberi kemampuan dan keterampilan, maka di uraikan mengenai gaya dilihat dari aspek kebahasaaan akan lebih diperlukan.



a. segi non bahasa
1. berdaarkan pengarang
2. berdasarkan masa
3. berdasarkan medium
4. berdasarkan subyek
5. berdaarkan tempat
6. berdaarkan hadirin
7. berdaarkan tujuan

b. segi bahasa
dilihat dari sudut bahasa atau unsur-unsur bahasa yang digunakan, maka gaya bahasa dapat dibedakan berdasarkan titik tolak unsur bahasa yang dipergunakan yaitu :

1. gaya bahasa berdasarkan pilihan kata;
2. gaya bahasa berdasarkan nada tyang terkandung dalam wacana
3. gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat
4. gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna




2. GAYA BAYAHASA BERDASARKAN PILIHAN KATA
Dalam bahasa standar (bahasa baku) dapatlah dibedakan ; gaya bahasa resmi, gaya bahasa tak resmi dan gaya bahasa percakapan. Perbedaab antara gaya bahasa resmi dan tidak resmi bersifat relatif.

a. gaya bahasa resmi
gaya bahasa resmi adalah gaya dlam bentuknya yang lengkap gaya yang dipergunakan dalan kesempatan-kesempatan resmi, gaya yang dipergunakan oleh mereka yang diharpkan mempergunakannya dengan baik dan terpelihara.
b. gaya bahasa tak resmi
gaya bahasa tak resmi juga merupakan gaya bahasa yang dipegunakan dalam bahasa standar,khususnya dalam kesempatan-kesempata yangtidak formal atau kurang formal. Bentuknuya tidak terlalu konservatif. Gaya ini biasanya dipergunakan dalam artikel-artikel mingguan ataubulanan yang baik dalam perkuliahan, editorial, kolumnis dan sebagainya.
c. Gaya Bahasa Percakapan
Dalam gaya bahasa ini pilihan katanya adalah kata populer dan kata percakapan. Namun harus ditambahkan segi-segi morfologusnya dan sintakis, yang secara bersama-sama membentuk gaya bahasa percakapan ini. Dalam gaya bahasa ini bahasanya maih lenkap untuk suatu kesempatan dn masih dibentuk menurut kebiasaan-kebiasaan ,tetapi kebiasaan ini agak longga biloadibaningkan dengan kebiasaan pada gaya bahasa resmi dan tek resmi.

3. Gaya bahasa berdasarkan nada
Gaya bahasa berdasarkan nada di dasarkan pad sugesti uyang dipancarkan dari rangkaian kata-kata yang tedapat dalam sebuah wacana. Gaya bahasa dilihat dari sudut nada dibagi atas : gaya sederhana,gaya mulia dan bertenaga, serta gaya menegah.
a. gaya sederhana
gaya ini biasanya cocok untuk memberi instruksi perintah, pelajaran, perkuliahan dan sejenisnya. Sebab itu untuk mempergunakan gaya ini scara efektif, penulis harus memiliki kepandaian dan pengetahuan yang cukup.

b. gaya mulia dan bertenaga
bila wajah luar yang diperlihatkan adalah sama dengan apa yang terdpat di balik tabirnya, maka secara langsung kita namakan gaya yang bertenaga dn peuh vitalitas. Ahli-ahli pidato, demago-demagog yang ulung biasanya menggerakkan emosi massa dengan gaya ini.

c. gaya Menengah
gaya menegah adalah gaya yang diarahkan kepada usaha untuk menimbulkan suasana senang dan famai. Karena tujuannya adalah menciptakan suasana senang dan damai, maka nadanya juga bersifat lembut, penuh kasih sayang danmenganung humor yang sehat.

4 GAYA BAHASA BERDASAKAN STRUKTUR KALIMAT

Berdasarkan ketiga macam struktur kalimat sebagai yang dikemukakan maka dapat diperolehgaya bahasa sebagai berikut :
a. Klimaks
Gaya bahasa klimaks diturunkan dari kalimat yang bersifat periodik.klimaks adalah semacam gaya bahasa yang menganung urutan-uruan pikiran yang setiap kali semakin meningkat kepentingannya dari gagagasn sebelumnya.

b. Antiklimaks
Antiklimaks dihasilkan oleh kalimat yang berstruktur mengendur. Antiklimaks sebagai gaya bahasa merupakan suatu acuan yang gagagsannya diturunkan dari yang terpenting berturut-turut kegagasan yangkurang penting. Antiklimaks sering kurang efektif karena gagasan yangpenting ditempatkan pada awal kalimat, sehingga pembaca atau pemdengar tidak lagi memberi perhatian pada bagian-bagian berikutnya dalam kalimat itu.

c. parelelisme
paralelisme adalah semacam gaya bahasa yang berusaha mencapai kesejajaran dalam pemakaian kata-kata ataufrasa-frasa yang menduduki funsi yang sama dalam bentuk gramatikal yang sama. Kesejajaran tersebut dapat pula berbentuk anak kalimat yang bergantung pada sebuah induk kalimat yang sama. Gaya ini lahir daristruktur kalimat yang berimbang.

d. antitesis
antitesis adalah sebuah gaya bahasa yang mengandung gagasan-gagasan yang bertentangan dengan mempergunakan kata-kata atau kelompok kata yangberlawanan. Gaya ini timbul dari kalimat berimbang.

e. Repetisi
Repetisi adalah perulangan bunyi suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting utnuk memberi tekanan dlam sebuah konteks yangsesuai. Dalam bagian ini hanya akan dibicarakan repetisi dalam bentuk kata atau frasa.


5. GAYA BAHASA BERDASARKAN LANGSUNG TIDAKNYA MAKNA

Gaya bahasa berdasarkan makna diukur dari langsung tidaknya makana, yaitu apakah acuan yangdipakai masih memeprtahankan makana denotatifnya atau sudah ada penyimpangan. Gaya bahasa berdasarkan ketidaklangsungan makana ini biaanya disebut sebagau trope atau figure of speech. Istilah ini sebenarnya berarti pembalikan atau penyimpangan.

gaya bahasa retoris
a. aliterasi
adalah semacam gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan yang sama. Contohnya : takut itik lalu tumpah. Keras-keras kerak kena air lembut juga.

b. asonansi
asonansi adalah semacam gaya bahasayang berwujud perulangan bunyi vokal yang sama . contoh nya : ini muka penuh luka siapa punya., kura-kura dala perahu, pura-pura tidak tahu.

c. anastrof
anastrof atau inversi adalah semacam gaya retoris yang diperoleh dengan pembalikan susunan kata yang biasa dalam kalimat.
Contohnya : pergilah ia meninggalkan kami, keherannankami melihat penganiyaya. Bersorak-sorak orang ditepi jalan memukul bermacm-macam bunyi-bunyian mela;ui gerbang dihiasi bunga dan panji berkibar.

d. Apofasis atau praterisio
Apofasis atau disebut juga preterisio merupakan sebuah gaya dimana penulis atau pengarang menegaskn sesutatu, tetapi tampaknua menyangkal. Berpura-pura membiarkan sesuatu berlalu, tetapi sebenarnya ia menekankan hal itu. Berpura-pura melindungi atau meyembunyikan sesuatu berlalu, tetapi sebenarnya ia menekankan hal itu.

e. apostrof
semacam gaya yang berbentuk pengaliha amanat dari para hadirin kepada sesuatu yang tidak hadir. Cara ini biaanya dipergunakan orator klasik.

f. asindeton
adalah suatu gaya yan berupa acuan yang bersifat padat dan mampat dimana beberapa kata, frasa, atau klausa yangsederajat tidak dihubungakan dengan kata sambung. Benuk-bentuk itu biasanya dipisahkan saja dengan koma.

g. polisindeton
polisindeton adalah suatu gaya yang merupakan kebalikan dari asindeton. Beberapa kata, frasa atau klausa yang berurutan dihubungkan satu sama lain dengan kata-kata sambung.

h. kiasmus
kiasmus adalah semacam acuan atau gaya bahasa yang terdiri dari9 dua bagian, baik frasa atau klausa, yang sifatnya berimbang dan dipertentangkan satu sama lain.

i. elipsis
elipsis adalah suatu gaya berwujud menghilangkan suatu unsur kalimat yang dengan mudah dapat diisi atau ditafsirkan sendiri oleh pembaca atau pendegar, sehingga struktru gramatikal atau kalimatnya memenuhi pola yang berlaku.

j. eufemismus
kata eufemisme atau eufmisme adalah semacam acuan berupa ungkapan-ungkapan yang tidak menyinggung perasaan orang, atau ungkapan-ungkapan yanghalus untuk menggantikan acuan-acuan yang mungkin dirasakan menghina, meninggung perasaan atau mensugestikan sesuatu yang tidak menyenangkan.

k. litotes.
Adalah semacam gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuau dengan tujuan merendeahkan diri. Sesuatu hal dinyatakan dari keadaan sebenarnya. Atau suatu pikiran inyatakan dengan menyangkal lawan katanya.

l. histeron proteron
adalah semacam gaya bahasa yang merupakan kebalikan dari sesuau yang logis atau kebalikan dari sesuatu yang wajar.



m. Pleonasme dan Tautologi
Pleonasme dan tautologi adala acuan yang mempergunakan kata-kata lebih banyak dai pada yang diperlukan untuk menyatakan satu pikiran atau gagasan. Walauun secara praktis kedua istila tersebut disamakan saja namun ada yang inginmembedakan keduanya tersebut.

n. perifrasis
adalah gaya yang mirip dengan pleonasme yaitu mempergunakan kata lebih banyak dari yang diperlukan. Perbedaannya terletak dalam halbahwa kata-kata yang berkelebihan itu sebenarnya dapa iganti dngansatau kata saja.

o. Prolepsis atau antisipasi
Adalah semacam gaya bahasa dimana orang mempergunakan lebih dahulu kata-kata atau sebuah kata sebelum peristiwaatau gagasan yang sebenarna terjadi.

p. Erotesis atau pertanyaan Reoris
Adalah semacam pertanyaan yang dipergunakan dalam pidao atau tulisan dengan tujuanuntuk mencapai efek yang lebih mendalamdan penekanana yang wajar, dan sama sekali tidak mengendaki adnya suatu jawaban.

q. Silepsis dan Zeugma
Adalah gaya dimana orang mempergunakan dua konstruksi rapatan dengan menghububgkan sebuah kata dengan dua kata lain yang sebenarnya hanya salah satunya mempunyai hubugan dengan kata pertama.

r. Koreksio atau epanortosis
Adalah suatu gaya yang berwujud mula-mula menegaskan sesuatu, tetapi kemudian memperbaikinya.
s. Hiperbol
Adalah semacam gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataanyang berlebih-lebihan dengan membesarkan sesuau hal.
t. Paradoks
Adalah semacam gaya bahaa yang menganung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada. Paradoks dapa juga berarti semua hal yang menarik perhatian karena kebenarannya.
u. oksimoron
Adalah suatu acuan yang berusaha untuk menghubungkan kata-kata untuk mencapai efek yang bertentangan.

Gaya bahasa kiasan
Contoh yang termasuk pada gaya bahasa kiasanini adalah
1. dia sama pintar dengan kakaknya
2. kerbau itu sama kuat dengan sapi
3. matanya seperti binatang timur’
4. bibirnya seperti delima merekah

perbedaan antara kedua perbaningan diatas dalam hal kelasnya. Perbandungan biasan mencakup dua anggota yang termasuk dalam kela yang sama, sedangkan perbandingan kedua sebagai bahsa kiaan mencakup dua hal yang termasuk dalam kelas yang berlainan.

a. persamaan atau simile
adalah perbandingan yang bersifat kspisit. Yangdimaksud dengan perbaningan yang bersifat eksplisit ialah bahwa ia langsung menyatakan sesuatu sama dengan halyanglain. Untuk itu ia memerlukan upaya yang secara ekplisit itu menunjukkan kesaman itu yaitu katya-kata seperti sama, sebagai, bagaikan laksana dan sebagainya

b. metafora
adalah semacam analogi yang membaningkan duahal secara langsung dalam bentuk yang singkat : bunga bangsa, buaya darat, cendra mata, dsbgnya. Metafora sebagai perbandingan langsung tidak mempergunakan kata seperti bak bagai bagaikan dan sebagainya.

c. Alegori, parabel dan fabel
Alegori adalah suatu cerita singkat yang mengandung kiasan . parabel adalah suatu kisah singkat dengan tokh-tokoh biasanya manusia, yang selalu mengandung tema moral. Fabel adalah suatu metafora berbentuk cerita mengenai dunia binatang, dimana binatang-binatang bahkan makhluk –makhluk yang tidak bernyawa seolah-olah sebagai manusia.

d. personifikasi
adalah semacam gaya bahasa kiasan yangmenggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat kemanusiaan.

e. Alusi
Semacam acuan yang berusaha mensugestikan kesamaan antara orang-orang , tmpat, atau peristiwa . biasanya alusi ini adalah suatu referensial yang ekspliit atau implisit kepada peristiwa-peristiwa, tokoh-tokoh yang terkenal.

f. eponim
adalah suatu gaya dimana seseoran yang namanya begitu sering dihubungkan dengan sifat tertentu, ehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat itu .

g. Epitet
Adalah semacam acuan yang menyatakan suatu sifat atau ciri yan khusus dari seseorang atau sesuatu hal. Keterangan itu adlah suatu frasa dskriptif yang menjelaskan atau menggantikan nama seseorang atau suau barang.

h. sinekdoke
sinekdoke adalah bahasa figuratif yang mempergunakan sebagaian dari sesuatu hal untuk menyatakan keseluruhan utnuk menyatakan sebagian.

i. metonimia
suatu gaya bahas yang mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan satu hal karena mempunyai pertalian yang sangat dekat.

j. Antonomasia
Juga merupakan sebuah bentuk khusus dai sinekdok yang berwujud penggunaan sebuah epiteta untukmenggantikan nama diri atau gelar resmi atau jabatan untuk menggantikan nama diri.

K Hipalase
Adalah semacam gaya bahasa dimana sebuah kata tertentu dipergunakan untuk menerangkan sebuah kata, yang seharusnya dikenakan pada sebuah kata lain .

L ironi . sinisme, dan sarkasme
Ironi atau sindiran adalah suatu acuan yang ingin mengatakan sesuatu dengan makna atau makud berlainan dari apa yang terkandung dalam rangkaian kata-tanya. Sarkame merupakan suatu acauan yan lebih kasr dari ironi dan sinisme.

M. satire
Kata satire ditrunkan dari kata satura yang berarti talam yang penuh beisi mermacam-mcam buah-buahan. satire adalah ungkapan yang menertawakan atau menolak sesuatu. Bentuk ini tidak perlu harus bersifatironis. Satire mengandung kritik tentang kelemahan manusia. Tujauanuamanyaadalah agar diadakan perbaikan secara etis maupun estesis.

n. Invendo
adalah semacam sindirin dengan mengecilkan kenyataan yan sebenarnya . ia menyatakan kritik dengan sugesiyang tidak langsung dan seing tampak tidak mnyakitkanhai kalau dilihat sambil lalu.

O antifasis
Adalah semacam ironi yang berwujud penggunaan sebuah kata dengan makna kebalikannya, yan bisa saja dianggap sebagai ironi sendiri atau kata-kata yangdipakai untuk menangkal kejahatan roh.

q. Pun atau paronomia
Adalah kiasan dengan mempergunakan kemiripan bunyi.ia merupaka pemisahan kata yang didasarkan pada kemiripan bunyi, tetapi terdapat perbedaan besar dalam maknanya.

No comments:

Share it